Tampilkan postingan dengan label Karyaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karyaku. Tampilkan semua postingan
Unknown
1.      Senja Taman Lunar

Usianya baru memasuki awal tiga puluh tahunan, tepatnya 32 tahun. Dia seorang dokter muda spesialis jantung dan pembuluh. Itu adalah pencapaian luar biasa untuk dokter seusianya di negeri ini, jelas ini juga karena dukungan otak jeniusnya. Dia menyukai makanan yang pedas, suasana senja di taman Lunar adalah yang terbaik menurutnya. Dia sering menghabiskan waktu liburnya untuk membaca jurnal medis di ruang kerja yang menghadap ke kolam renang. Sikapnya lembut dan ramah serta penuh rasa tanggung jawab terhadap pekerjaannya. Membenci kebohongan karena menurutnya hal itu percuma dan pada akhirnya sesuatu yang ditutupi itu pasti akan ketahuan juga, meski dalam jangka waktu yang lama.
Dan sekarang dia telah membuat kebohongan terbesar dalam hidupnya.
Menikah dengan seorang bidan cantik yang empat tahun lebih tua darinya, Delila. Pernikahananya baru menginjak bulan kelima bulan ini, tapi kami sudah menjalin kasih ini lebih dari dua tahun. Namanya, Rendra. Perawakannya tinggi, kulitnya putih bersih terawat. Matanya cokelat, giginya tersusun rapi dan aroma parfumnya yang selalu berhasil membuatku menghipnotisku.
Sore ini kami berjanji untuk bertemu di taman Lunar yang ada didekat tempatku bekerja. Sudah hampir lima belas menit aku duduk dibangku taman sambil membaca buku. Menikmati heningnya senja. Mengabaikan riuhnya taman oleh tawa anak-anak dan penghuni taman lainnya.
Langkah kaki yang familiar nampak sedang mendekatiku. Aku mengalihkan pandanganku dari buku yang sedang kubaca. Yah… benar, Rendraku datang.
“ Bagaimana harimu?” sapaku.
Mengulas sebuah senyum kecil padaku, lalu mulai duduk disampingku. Memandangku lekat-lekat lalu mulai menceritakan tentang semua hal yang dilakukannya hari ini. Kami bercengkerama sambil menikmati sunset di taman. Sampai akhirnya Rendra mengajakku untuk makan malam.
“ Akhir pekan ini bagaimana kalau kita pergi berlibur? aku ingin menghabiskan waktu denganmu, setelah menghadapi minggu ini dengan cukup berat. Aku lelah dengan semuanya.”
Sedikit terkejut, namun aku segera tersenyum dan mengeryitkan dahi penuh arti pada seseorang yang sedang duduk dihadapanku dengan makanan pedas didepannya.
“ Aku tahu tentang apa yang membuatmu akan menolak rencanaku ini, Lila kan? Ehm... tenang saja, akhir pekan ini dia akan mengunjungi keluarganya yang ada di luar kota. Jadi tidak akan ada yang mengganggu kita” Rendra berusaha meyakinkanku dengan mengusap lembut punggung tanganku yang sedang memegang gelas jus mangga.
Aku menghela napas panjang sebelum mulai bicara serius padanya, “ Ren, sejak awal apa yang kita mulai ini tidaklah benar. Aku masih merasa begitu bersalah padanya kalau aku mengencanimu, tapi disisi lain aku masih sangat mencintaimu.”
Menggenggam tanganku dengan hangat, aku merasakan bahwa Rendra sedang berusaha menenangkan aku dengan tatapannya yang lembut dan juga belaian tangannya dilenganku. Kami menyelesaikan makan malam dengan cepat sehingga sekarang Rendra mengantarku ke apartemenku.
Suasana malam yang bermandikan gemerlap lampu kota sedikit bisa menghiburku melupakan rasa bersalahku pada mereka, Lila dan Devin. Mereka yang telah kami nodai kepercayaannya.
Devin adalah kekasihku. Dia kekasihku sejak lima bulan lalu, tepatnya saat aku patah hati mendengar pernikahan Rendra dan Lila. Devin adalah rumah keduaku, meskipun aku tidak benar-benar menyukainya tapi dia adalah seseorang yang berharga untukku. Sahabatku disaat Rendra sibuk mengurusi istrinya, Devin dengan senang hati akan menemani dan mengantarku kapan saja.
Beep beep
Sebuah pesan masuk, aku segera membukanya. Dari Devin, dia sedang ada di apartemenku sekarang dan menungguku untuk makan malam bersama. Seketika itu pula aku segera menoleh pada Rendra yang sibuk mengamati jalan. Namun merasakan kalau aku tiba-tiba menatapnya.
“ Ada apa sayang?”
“ Devin ... Devin ada di apartemenku sekarang, dia sedang menungguku” suaraku pelan namun terdengar jelas olehnya.
“ Baiklah, malam ini aku tidak mampir. Nikmati malammu dengannya, tapi hubungi aku setelah dia pulang nanti.
Unknown
Biarkan aku saja yang pernah merasakan semua dekapanmu. Merasakan semua sentuhan lembut jiwamu. Menikmati santunnya tuturmu. Menatap tatapan embunmu. Menggenggam erat jemarimu saat aku tak sanggup melangkah sendiri. Karena hanya aku yang sanggup membahagiakanmu. Hanya aku yang bisa melengkapi lubang yang ada dijiwamu. Meski aku tahu aku tak layak untukmu. Terlalu egois memang, namun itu semua karena aku tak sanggup tanpamu.
            Aku tak mau mengerti apa sebabnya kau meninggalkanku, yang mau kutahu adalah mengapa kau pergi dengannya?  
            Dulu, kau selalu menyanyikan syair cinta disetiap bait puisi nafasmu. Membangun kastil cinta dipantai  yang berpanorama biru. Menyimfonikan kisahku bersamamu. Melukis pelangi disaat mendung merundung hati. Memahat emas dalam hatimu untukku. Semuanya takkan sirna oleh terpaan angin bahkan ombakpun tak sanggup mengikisnya. Cintamu hanya untukku.
            Setahun  ini, segala rutinitas itu terhenti. Ganjil memang, tapi apa mau dikata dan dilakukan. Katak takkan melompat kebelakang. Kaupun takkan kembali kepadaku. Surat undangan itu adalah jawaban dari nilai limit dalam melodi cinta kita.
            Apakah harus aku menghadiri upacara kebahagianmu yang sama dengan upacara kematianku sendiri? Memasang raut palsu kebahagiaan, menyodorkan senyum hambar, menawarkan jabat tangan kayu. Haruskah? Aku tak yakin sanggup melakukannya.
            Tatapan kosong ku lemparkan ke arah tumpukkan pakaian yang baru saja selesai ku lipat. Terdengar suara gaduh dari ruang tamu. Membangunakanku dari lamunan yang menyiksa batin dan jiwa.
            “Assalammualaikum...”
            “Waalaikum salam... iya sebentar,” jawabku sambil setengah berlari menuju ruang tamu.
            Aku terkejut mendapati seorang wanita cantik dengan rambut ikal sebahu menggunakan bando yang nampak serasi dengan dress yang melekat dibadannya berada dibalik pintu. Rautnya nampak kesal bercampur marah. Tangannya setia melekat pada pingganggnya.
            “ Bisa saya bantu? Anda mencari siapa?,” tanyaku padanya.
            “ Ini benar rumah Nisa? Gue mau ketemu sama dia,” katanya dengan nada tergesa-gesa.
            “ Iiiyaa... ini saya Nisa, ada apa ya? Anda siapa?,” suaraku berusaha menjawab tanyanya.
            “ Gue cuma mau peringatin loe, loe jangan deketin calon suami gue. Rayhan milik gue, ngerti loe. Awas kalo sampe loe deketin dia !,” ancamnya dengan mengacungkan telunjuk tepat kewajahku. Setelah itu, ia meninggalkanku. Berlalu menuju sebuah mobil jazz merah yang terpakir didepan rumahku.
            Aku hanya tertegun dan berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi, menarik benang merah dari secuil benang kisut. Langkah kakiku membawaku keruang tamu, tubuhku tersandar ke kursi yang tertata rapi ditempatnya. Tubuhku lemas seketika. Pikirku kalut, nafaskupun mulai tak terarah.
            Apa ini Rayhan? Kenapa kau masih menyangkutkan masalahmu denganku? Kau membuatku semakin sulit melepaskanmu. Apakah artinya aku buatmu sekarang? Masih pentingkah aku, Ray?
***
            Hari ini aku mau ke sekolah, bertemu lagi dengan anak-anak itu. Memikirkannya saja membuatku senang, apalagi kalau bertemu dengan mereka pasti menyenangkan. Motor sudah siap, ehm... apalagi ya? Oh ya...kuncinya dimana? Aku kembali kedalam rumah, menyusuri tiap ruang.
            Setelah mendapatkan kunci itu, aku berlalu menuju garasi. Tapi, langkahku tiba-tiba terhenti saat berpapasan dengan cermin di ruang tengah. Ku tatap sosok yang nampak kurus dan kusut. Padahal aku sudah berusaha menutupinya dengan make up yang agak lebih dibanding biasanya. Baju yang kukenakan juga nampaknya tak dapat membantu banyak. Warna hitam yang biasanya cocok kupakai kini nampak menambah kurus tubuhku. Menambah kesan menakutkan pada diriku.
            “ Ehm ... sudahlah, semua juga tahu kalau aku sudah hancur sejak kepergianmu Ray.”

            Aku berlalu meninggalkan cermin, menuju motor biruku. Memacunya cukup kencang. Berharap kekacauan ini dapat tertinggal di belakangku, angin kencang berhembus menerpa wajahku. Angin kebebasan.
to be continue 
Label: 0 Comment |
Unknown

Lover

 

I don't know when the feel was come

But I know one thing that really disturb me

I love you very much, much, much more

I wish be yours

And you're mine

I can't control my soul

I can't close my eyes without seeing you

I can't breathing without meet you

God... help me please

please unite us in purified bundle


Label: 0 Comment |
Unknown

MENGHARGAI YANG DIPUNYA


Cukup sulit dan bahkan tidak akan pernah merasa cukup serta puas atas apa yang dimiliki. Ya ... itu sudah melekat erat pada kita sebagai manusia, benar kan???
Semua yang kita punya baru akan terasa berharga jika hal tersebut diambil oleh Dzat Yang Maha Kuasa, jangan sampai kita menyesalinya. Sebelum hal tersebut terjadi alangkah baiknya jika kita mensyukuri sebagai bentuk rasa menghargai pinjaman nikmat dari Allah ini. Selama ini kita selalu menginginkan apa yang menurut kita baik, menarik dan bagus dari kacamata kita, namun hal itu belum tentu baik dan bermanfaat untuk kita menurut Allah. Allah lebih tahu mana yang sedang benar-benar kita butuhkan, yang terkadang sangat bertolak belakang dengan apa yang kita inginkan.

Yakini bahwa suatu saat, apa yang menjadi keinginan kita akan menjadi kebutuhan kita jika itu memang benar-benar kita butuhkan. 
Label: 0 Comment |
Unknown

I want you to know
one thing.

You know how this is:
if I look
at the crystal moon, at the red branch
of the slow autumn at my window,
if I touch
near the fire
the impalpable ash
or the wrinkled body of the log,
everything carries me to you,
as if everything that exists,
aromas, light, metals,
were little boats
that sail
toward those isles of yours that wait for me.

Well, now,
if little by little you stop loving me
I shall stop loving you little by little.

If suddenly
you forget me
do not look for me,
for I shall already have forgotten you. 
Unknown

Terima, Resapi dan Lakukan

Banyak hal yang datang menghampiri kita dari waktu ke waktu, semuanya adalah pengalaman berharga untuk kita. Mengapa demikian ??? Karena berbagai hal itu mengajari kita untuk selalu meneguhkan hati disaat apapun. Hal baik maupun buruk memberikan kita sebuah pelajaran hidup, bahwa semuanya akan berakhir jika dihadapi bukan ditinggal lari.

Langkah pertama untuk menghadapinya adalah dengan menerima tantangan tersebut, terimalah seberat apapun hal itu. Seburuk apapun itu, yakinlah bahwa suatu saat hal ini akan membantu kita menghadapi masalah yang serupa agar kita tidak mengalami kegagalan lagi. Lalu, resapi makna yang terkandung didalam masalah tersebut. Pastikan kita mengetahui penyebab masalah ini, ambil makna pentingnya. 

Dan yang paling penting dan terutama adalah eksekusi keputusan, keputusan apa yang kita ambil untuk menghajar masalah tersebut sampai tuntas. Jangan biarkan orang lain mendikte jalan mana yang akan kita ambil, kita adalah masinis di kereta kehidupan ini.

Unknown

Who am I ???


Pertanyaan yang beberapa hari ini mengusikku. Siapa sebenarnya aku ? dan Seperti apa sebenarnya aku ini?
Aku yakin pasti hanya ada satu orang yang dapat menjawabnya, coba Anda tebak siapa ? Ya ... benar sekali, jawabannya adalah diri kita sendiri.
Aku adalah seperti apa yang kupikirkan, jika aku pikir kau bisa melakukannya maka pasti aku bisa melakukannya. Dan jika aku pikir aku akan berhasil maka aku akan berhasil. Maksudnya adalah, diri kita merupakan motivator terpenting dan paling kita percaya sebab diri kita adalah orang yang paling kenal serta tahu seberapa besar power (kemampuan) yang kita miliki.

Menjawab pertanyaan pertama tadi, Siapa sebenarnya aku ?
Aku adalah manusia biasa dengan kemampuan lebih, artinya aku sama dengan orang lain jadi aku juga mempunyai kesempatan yang sama dengan mereka. Namun, aku mempunyai kemampuan lebih, lebih untuk bersabar, bertahan, serta mengendalikan diri. 

Apa sebenarnya aku ? 
Aku adalah setitik warna dalam luasnya kanvas kehidupan, jika aku terus menorehkan titik-titik warnaku maka bukan tidak mungkin suatu saat dunia ini akan penuh oleh warnaku. Artinya, aku harus terus berusaha mencapai cita dan mimpiku walaupun banyak tantangan datang, karena suatu saat aku akan menjadi setitik warna yang berarti.

Jadi, bagaimana dengan Anda ? Siapa Anda sebenarnya ?
Label: 0 Comment |
Unknown

Malam ini adalah malam minggu yang ke-23, malam yang harus kuhabiskan sendiri tanpamu. Tanpa riuhnya suaramu dirumahku. Tanpa adanya lagi senyummu untukku, pandangan lembut yang semakin membuatku rindu akanmu kali ini.
Benar sudah, semuanya tinggal kenangan. Kenangan indah, aku tak mau merusaknya dengan luka apapun. Aku juga tak mau mengingat luka yang kau tinggalkan itu. Aku terlalu sayang, terlalu kagum dan semuanya sungguh terlalu jika menyangkut tentangmu. Aku bahkan mungkin akan menjadi fan fanaticmu yang pertama jika ada fanclub untuk mengagumimu.
“ Alan ...” gumamku.
Padahal aku sudah berharap banyak darimu, berharap menjadi istrimu. Sampai sebegitunya aku menginginkan kita berjodoh, tapi apa mau dikata. Sepertinya Allah sudah menyiapkan jodohmu, dan itu bukan aku. Allah tak ingin jika aku terlalu menyayangimu dan mengesampingkan ibadahku, aku sampai-sampai melupakan kewajibanku. Satu hal baik dari semuanya, aku beruntung pernah mengenalmu dan menjadi bagian cerita hidupmu.
“ Dee ... nglamun aja, mikirin apa sih ? sini-sini cerita ke abang Kevin,” membuyarkan lamunanku, menatapku dengan penuh selidik.
Tersenyum tipis, “ Apaan sih loe, gue lagi mikirin proker kita kok. Kita ‘kan belum dapet dana dari Pak Reno.” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan, mengubah ekspresi wajah secepat mungkin.
Menampakkan raut tak percaya, “ Hadehh.... Dee, emangnya gue anak kecil yang bisa loe boongin gitu. Gue kenal loe juga nggak baru sehari dua hari kalee ...” menarik tanganku ke arahnya.
“ Kevin, gue belum bisa cerita ini ke loe. Bukan maksud gue nggak mau cerita, biasanya kan gue juga cerita apapun ke loe” meyakinkan kevin dengan pandangan meminta pengertian.

Menatapku lebih dalam lagi, “ Oke.... gue ngerti”.
Label: 0 Comment |
Unknown

Merasa kecewa, marah dan bahkan kesal pada orang lain adalah hal yang lumrah menimpa siapa saja. Tetapi, apakah kita pernah merenungi bahwa merasakan kecewa, marah dan kesal hanya akan menyakiti diri kita sendiri. Menjauhkan diri kita dari kebahagiaan, membuat kita harus berteman dengan kegagalan. Mari kita coba untuk merelakan hal buruk yang menimpa kita adalah sebagai ujian kenaikan kualitas hidup yang lebih baik, tak perlu kita menyalahkan diri sendiri ataupun orang lain atas hal tersebut. 

Tentunya tidak mudah untuk melewati ujian hidup yang tengah melanda, dibutuhkan ekstra fisik yang kuat, pikiran yang jernih serta hati yang tenang. Bukan tidak mungkin kita akan melewatinya dengan mudah jika kita mempunyai kesiapan lebih. Atau bahkan sebaliknya, kita akan tenggelam dan larut dan ujian itu jika kita terus meratapinya tanpa berusaha untuk maju menyelesaikannya. Mulailah dari menata hati dulu, karena dari hatilah semua emosi kita berasal. Tetapkan tujuan awal kita yaitu untuk naik kelas (meningkatkan kualitas hidup), lalu rancanglah kemungkinan keputusan yang akan diambil (pertimbangkan pula dampaknya), lalu eksekusi. Lakukan sebaik mungkin, sesuai kemampuan yang kita miliki.
Dan yang terakhir adalah menyerahkan hasilnya kepada Dzat yang agung, Allah.

Label: 0 Comment |
Unknown
Thing's You can't Buy in Stores

Everyday you need buy something to keep your life
You must go to stores
Spend a lot of money
Spend a lot of time
According that you must work

But, sometime you forget something important
Important to make you'r life usefull
Something you can't buy with anything
Love
Dreams
Friends
Wish come true
Happiness
and the most special thing time

A lot of money may be make you happy
but not too long
Money make friendship, not too long
Money make your dreams come true
you can buy anything that you want

Think again
When your money dissapear
Everything will lost too
Label: 0 Comment |
Unknown

Ku punya cerita

Aku ingin mengukir sebaik-baik cerita, meski mungkin lebih singkat dari kebanyakan orang tapi aku akan membuatnya berharga. Menikmati setiap detik yang tidak akan mungkin pernah kembali lagi.
Aku adalah orang istimewa yang beruntung, sebab dapat menjalani peran ini sampai sejauh ini. Peran yang orang lain belum tentu bisa dan mau menjalaninya. Peran sebagai gadis dengan fisik yang nampak sehat namun tidak demikian. 

Semuanya dimulai tepat sekitar 2 tahun lalu, saat usiaku menginjak 17 tahun. Ada yang bilang kalo saat 17 tahun adalah saat yang paling membahagiakan dalam hidup, tapi nampaknya hal itu tidak berlaku padaku saat itu. Aku mendapatkan kejutan tak terduga bahkan mungkin kado tersurprise begitu, aku divonis terjangkit ASD. Bahasa umumnya sih penyakit jantung bawaan. Sempat bingung juga bisa dapat nih penyakit dari siapa, eh ternyata setelah diruntut ketemu juga, dari nenek. 

Mengetahui hal itu panik pasti, bingung juga, dan kelabakan banget mencari tempat berobat. Dari mulai rutin ngapelin RSD Jombang sampai kunjungan rutin ke RS Dr. Soetomo Surabaya. Sudah tidak terhitung lagi berapa biaya yang dikucurkan ortu saat itu. Tapi, ya pastinya semua bisa nebak apa yang terjadi ? masih tetap begitu saja. Maksudnya, belum ada perubahan apapun meski aku sempat berbaring dimeja operasi yang menakutkan itu. Mencoba menenangkan diri disaat seperti itu ternyata lebih sulit dari teori, segala hal positiv coba kupikirkan namun yang terbayang adalah monster yang akan membawaku kembali ke Allah.
Label: 0 Comment |
Unknown

Dia



Aku tak tahu apakah yang kupikirkan dan rasakan ini benar adanya dan dibenarkan oleh agamaku, aku sudah berusaha untuk menghapus semua tatapan matamu dari buku harian hatiku, menyapu indahnya senyummu dari lubuk hati ini, meracuni kata-kata manismu kepadaku. Tetapi, apapun usahaku rasanya sia-sia belaka. Pondasi beton yang kau tanamkan dihatiku sudah terlanjur mendarah daging dan menyatu dalam urat nadiku. Sehingga, menyebut namamu saja membuat hatiku bergetar. Menatap potretmu membuatku sesak nafas dan kehilangan kesadaran. Bertahun-tahun lamanya kupendam dalam rasa ini, berharap kau yang ungkapkan dulu kepadaku.
Tetapi, bukankah kita masih ada ikatan saudara? bukankah kau adalah adik dari Bu dheku? kenapa kau harus menjadi sosok itu? menjadi orang yang benar-benar kuharapkan menjadi imam dalam bahtera keluargaku kelak.
Semua pertannyaan berkumpul menjadi sebongkah batu yang siap menghantamku kapanpun, menghantuiku saat aku mengingat wajahmu. Tapi untuk apa sekarang aku memikirknmu lagi, mungkin kau saja tak ingat denganku, tak peduli denganku bahkan membenciku mungkin. Mungkin pula kau sudah mempunyai tambatan hati, meskipun itu mungkin tapi aku harap tidak mungkin.
Malam ini, aku benar-benar bahagia. Kau mengucap janji suci itu di depanku dan keluargaku. Dunia serasa berpihak kepadaku, semerbak bau surga menyapaku. Terlihat jelas kesungguhan itu dari raut wajahmu.
“ Maukah kau menjadi pendamping hidupku ? menjadi ibu untuk anak-anakku kelak?,” tanya seorang pria berusia 27 tahun yang sejak ba’da magrib tadi duduk di ruang tamu rumahku.
“ Insya allah, aku bersedia. Tapi aku membutuhkan bimbinganmu dalam mengasuh anak-anak kita kelak,” Jawabku dengan suara lembut sambil memegang erat tangan halus wanita paruh baya yang duduk disampingku.
“ Tentu, aku akan membimbingmu, menjagamu, serta menyayangimu.” Jawabnya dengan tegas tanpa ragu sedikitpun.
Dialog singkat itu disaksikan oleh lantunan sunyi malam beserta para musikus yang menghiasi malam ini. Nampak sedikit ganjil dan hambar, di ruang tamu itu semua orangnya sudah sangat kukenal baik. Lucu rasanya, keluarganya adalah keluargaku. Meskipun kami belum ada ikatan. Aku tak peduli itu, tak mau tahu dengan apa kata orang tentang kami. Peduli apa mereka dengan kebahagianku.
Jangan lagi kau sesali keputusanku
Ku tak ingin kau semakin kan terluka
Tak ingin ku paksakan
Cinta ini...
Meski tiada sanggup kau terima
Dentuman lagu ini membangunkanku. “ Agh... sial, hanya mimpi,” gerutuku dalam hati. Suara alarm yang kupasang, malah mencelakaiku sendiri. Padahal sudah merasa terbang kepangkal langit, dan kini harus jatuh kembali ke ujung bumi. Sakitnya tak sesakit harus menyadari kenyataan, kenyataan bahwa kini aku adalah istri dari orang lain. Menatap raut wajah seseorang yang belum kukenal benar sosoknya, kini terlelap diranjangku, dikamarku.
Mas Setyo, pria yang menikahiku dua bulan lalu. Entah alasan apa yang membuatku menerima pinangannya. Keluargakupun dengan suka cita menerima bergabungnya Mas Setyo ke keluarga kami. Mungkin karena parasnya yang rupawan dan kekayaannya? Atau karena kelembutan dan kesopanan tutur katanya? Atau karena keputus asaanku menantimu, My Prince ?
Tapi yang penting dari semuanya Mas Setyo menyayangiku, menerimaku apa adanya, mau memahamiku. Beruntungnya aku bisa menjadi kandidat terpilih di hatimu Mas. Kau selalu romantis dan memanjakanku setiap hari, membuatku tak jemu dengan hadirmu. Menumbuhkan sedikit demi sedikit benih cinta untukmu, dan mengkaramkan cintaku untuk My Prince.
Terbesit juga akan selembar kertas yang kemarin baru kuambil dari Rumah Sakit. Aku tak pernah menyangka kalau aku akan jadi begini, sakit. Sakit yang menurutku nggak biasa. Kenapa juga harus aku? Apa aku bisa bertahan melawan penyakit ini? Apa aku sanggup ya Allah? Semua pertanyaan bertubi-tubi menusuk pikirku. Aku belum berani menceritakan hal ini pada siapapun, mas Setyo juga belum tahu. Aku belum siap mendapatkan belas kasihan dari siapapun. Aku malu kalau terlihat lemah didepannya. Meski aku tahu betul, dia takkan menertawakanku. Biarlah waktu yang akan bercerita padanya.
*****
“ Pagi sayang ! ayo bangun kita sholat berjamaah dulu,” ajak mas Setyo dengan usapan halus dirambutku, suaranya yang pelan membuatku terbangun.
“ Iya, mas.” Jawabku dengan mata masih terpejam.
Sudah menjadi rutinitas kami sholat berjamaah, dan sudah rutinitas pula kalau aku harus terbangun oleh suara lembutnya. Kini aku harus terbiasa dengan memanggilnya suamiku. Butuh proses memang untuk mengajak lidah ini kompromi mengucap kata itu. Tapi syukurnya Mas Setyo selalu bisa mengerti itu. Aku juga harus terbiasa melayaninya, menyiapkan segala keperluannya sebelum berangkat bekerja. Menanti kepulangannya setiap pukul 16.00 tiba.
“ Sayang, hari ini Mas pulang telat. Ada laporan-laporan yang harus diselesaikan,” katanya sambil membereskan sajadah.
“ Iya, Mas.” Jawabku singkat.
Tuturnya yang lembut dan tak pernah sekalipun kudengar darinya amarah terkadang membuatku merasa bersalah jika harus bersikap acuh kepadanya. Inikah saatnya aku menjadi istri yang baik, sholehah, nurut ke suaminya ? namun, dihatiku masih ada nama orang lain, bukan dirimu Mas Setyo. Salahkah aku?
Hari ini aku masuk ke dapur dengan perasaan menggantung, mengharap mimpi semalam adalah nyata. Kupanaskan air diatas kompor, ku persiapkan racikan kopi yang setiap pagi sengaja kuhidangkan untuk Mas Setyo. Setelah kopi siap, aku mulai aksiku dengan semua peralatan dapur dan sayur mayur yang kedinginan di dalam lemari es. Kupotong, kucincang, kurebus, kucampur dengan berbagai macam bumbu yang kuketahui dari ibu tercinta.
Label: 0 Comment |
Unknown

Dirimu memang pantas untuk dihargai

Setiap dari kita tentu pernah melakukan kesalahan yang besar, kita sering tidak bisa memaafkan diri kita sendiri karena mungkin kita menganggap bahwa diri kita ini terlalu buruk. Padahal, sebenarnya manusiawi saja kalau kita mengecewakan diri dalam hidup ini. Semua hal tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan kita, banyak hal yang justru kita inginkan berjalan mulus malah sebaliknya.

Kita tidak dapat menolak takdir yang datang, yang dapat kita lakukan adalah menerimanya. Karena dengan menerima diri kita sendiri berarti kita dapat menerima hidup dan menikmatinya tanpa harus meratapi ketimpangannya dengan hati kita. Menunjukkan bahwa diri kita adalah orang yang kuat, kuat mengubah perasaan yang buruk menjadi lebih lebih dan lebih baik lagi. Terserah dunia mau memperlakukan kita seperti apa hanya diri kita yang dapat membuat semuanya terasa baik-baik saja. Bukankah begitu???

Bagaimana orang lain bisa menghargai kita, jika diri kita saja tak mampu untuk itu? untuk bisa dihargai kita harus menunjukkan pada dunia seberapa layak diri kita ini untuk mendapatkan penilaian lebih. Tidak perlu menjadi berbeda dari biasanya, cukup dengan senyum puas yang terpampang di wajah. Saya yakin orang lain akan turut tersenyum pada Anda, orang lain akan merasakan energi positif yang menaungi diri Anda. Jadi tidak akan ada alasan untuk menganggap Anda buruk.

Satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya adalah selalu ciptakan mood cemerlang setiap hari dalam kondisi dan situasi apapun. Hal itu akan membantu Anda untuk selalu bisa menerima hidup tanpa perlu menyesalinya terlalu lama. Cukuplah hal-hal buruk itu sebagai pengalaman yang berharga dalam hidup, mengingatnya hanya akan menyakiti perasaan kita dan membuka kembali luka lama.
Oke... terus semangat dan positive thingking... we'll be better
See you :-)
Label: 0 Comment |
Unknown



Aku hanya dapat tersenyum geli mengingat kejadian tadi siang. Membahagiakan sekali, meski aku benar-benar gugup dan berdebar luar biasa. Keringat dingin mengucur deras, lututku tiba-tiba lemas, menandakan suasana hatiku, sulit sekali kucoba untuk menutupi rasa ini. Wajahmu, senyummu, tatapanmu, semuanya membuatku lemas tak berdaya, ingin sekali saat itu aku memelukmu tapi aku masih bisa mengontrol laku ini. Lantunan lagu cinta dan dawai gitarmu menggetarkan seisi duniaku, seluruh makhlukNya menjadi saksi akan pernyataanmu, pernyataan untuk akan selalu menyayangiku, mencintaiku serta berjalan berdampingan denganku disaat senang maupun sedih. Lidahku keluh seketika, aku hanya dapat mengangguk dan tersenyum tersipu.
Belasan pasang mata menyaksikan. Aku yakin perempuan manapun pasti iri dengan apa yang telah kau lakukan untukku sore ini. Satu kata untukmu, “sayang.” Kehadiranmu dalam kisahku menambah semarak dan berwarna. Kau adalah lentera saatku mulai merasa ketakutan akan jalan gelap yang kulalui. Kau juga adalah kembang api dalam hatiku, yang selalu mengejutkanku dengan keindahan cintamu. Terima kasih Allah, Engkau kirimkan dia untukku.
Hari-hariku semakin menarik, setiap hari ada saja kejutan yang kau berikan padaku. Dari mulai sekedar bunga mawar sampai puisi yang rutin kau kirimkan padaku. Melihat senyummu saja sudah bisa membuatku ikut tersenyum bahagia, perasaan sedih dan kesal pun terbang bersama angan bahagiaku bersamamu.
“ Tiara, ayo masuk ! sudah malam sayang, nanti masuk angin lho...” suara lembut membangunkanku dari lamunan yang indah.
“ Iya, ma... Tiara masuk sebentar lagi.” Sahutku seraya beranjak dari tempat duduk menuju kesebuah rumah yang menurutku cukup besar untuk ditinggali tiga orang.
Langkah kakiku membawaku ke kamar. Menyusuri sebuah lorong yang cukup panjang menuju kamar. Senandung kecil keluar dari mulutku. Entah lagu apa ini, yang penting lagu ini mencerminkan hatiku saat ini. Suasana kamar yang sunyi membuatku ingin lekas tidur, mengarungi dunia mimpi bersama Dion yang selalu lebih indah untukku dan terkadang memanjakan aku untuk tidak beranjak darinya. Kurebahkan tubuhku diatas ranjang, pandanganku melayang menembus dinding menerawang jauh, terlintas sebuah senyum terindah yang tak akan kulupa siapa pemiliknya. Mata ini rasanya sudah tak sanggup lagi terjaga, beberapa kali aku menguap. Tanganku mengucek pelan mata ini.
Zreeet....zreeet....zreet
Suara alarm menggangguku, membuatku terbangun, kutatap jam alarm yang sudah menunjukkan pukul 04.00 tepat. Ayo...Tiara bangun, bangun, bangun dan sholat subuh. Kuayukan langkahku menuju kamar mandi, mengguyur wajah dan tubuh ini dengan air wudhu. Betapa segarnya dan menyejukkan, mengusir kantuk dan malas yang menggelayut didada. Peningnya kepalapun sirna begitu saja bersama air yang jatuh mengalir.
“ Adek... udah bangun ya, ayo jamaah sholat. Kakak tunggu diruang sholat ya...” suara lelaki yang beda usia enam tahun dariku, kak Tio.
“ Bentar kak... iya nanti aku nyusul.” Jawabku dari dalam kamar mandi.
Keluargaku memang sudah terbiasa untuk sholat berjamaah, apalagi waktu magrib, isya’ dan tentunya subuh. Rasanya janggal kalau sholat sendiri jika tidak dalam keadaan terpaksa dan kepepet. Aku segera bergegas menghampiri kak Tio yang sudah bersiap untuk sholat, mukenah segera kusambar lalu kukenakan. Takbir mengawali ibadah kami. Khusyuk dan hikmad menyelimuti ruangan yang cukup luas berhias lukisan kaligrafi dibeberapa sisi dindingnya menambah syahdu. Cat dinding yang berwarna hijau muda menambah kenyamanan ruang ini.
####
“ Kak Tio, ganteng deh... hari ini ada acara nggak?” rayuku mendekatinya sambil membawakan kripik telo kesukaannya. Mengambil tempat duduk disebelahnya.
“ Kenapa nih? Wah... modus penyalahgunaan kebaikan ya? Ada apa Ra?” tanyanya ketus sambil menatapku tajam, tangannya mulai meraih kripik yang kupegang erat.
“ Ah... kakak, jangan buruk sangka dulu donk. Adekmu yang cantik rupawan nan dermawan ini mau minta sedikit bantuan aja kok. Kakak besok bisa jemput aku nggak ? aku lagi malas nih pulang naik bis kota.” Senyum manispun sengaja kulemparkan kearahnya.
“ Ehm ... gimana ya ?”
Aku mulai mengembangkan senyum penuh harap sambil menyodorkan kripik kepadanya. Dengan harapan akan sebuah permohonan yang terkabul.
“ Tolong banget deh kak, aku bener-bener lagi bosan nunggu bis di halte.”
“ Insya allah... besok itu jadwalku full, kalau sempat ya... ku jemput.” Memasukkan beberapa kripik kemulutnya. “ Besok kalau aku bisa jemput ku sms deh, kamu nggak ada temen yang rumahnya searah sama kita ya ? kalau ada mending nebeng aja.”
“ Oke ... oke, ya pastinya ada kak. Sayangnya, aku nggak kenal sama anak itu. Tapi, mungkin anak itu kenal aku, karena aku kan terkenal.” Aku menjawab pertanyaannya dengan jawaban sekenanya sambil memasang tampang bersinar bagai bintang iklan. Dengan tangan kanan menyibakkan rambut kebelakang.
Aku mulai lebih mendekatkan diri duduk disampingnya, ingin sekali rasanya menceritakan kejadian yang sedang berlangsung dalam hatiku, tapi... apa kak Tio mau dengar ya ? Jangan-jangan malah diledek atau dimarahin. Tapi, Kak Tio bagaimanapun juga tetap harus tahu. Jelek-jelek gitu kakak Tio adalah kakak satu-satunya yang kupunya.
“ Kak...kaaaak Tio.”
Menatapku lembut sambil terus mengunyah kripik di tangannya. Memberi sinyal bahwa aku bisa mulai bicara karena dia sudah membagikan perhatian untukku.
“ Kakak punya cewe’ kan ? Kakak lebih bahagia kalau punya cewe’ daripada nggak kan ? Jangan bilang nggak, aku tahu kok. Kak Viona dan Kak Xena.” Aku membalas tatapannya, aku cukup sadar kalau kakakku punya tampang yang lumayan untuk digilai dua cewe’ sekaligus, dan sifatnya yang terkadang lembut nan manis semakin memikat para gadis. Membuat siapapun akan dengan mudahnya terjerat akan biusnya. Lagipula sekarang kak Tio juga sudah punya pekerjaan tetap, manajer produksi disalah satu perusahaan kertas yang cukup bonafit.
Label: 0 Comment |
Unknown
Setiap kali aku coba memejamkan mata
Setiap kali itu pula aku mengingat semuanya
Semua yang pernah ku dapatkan dengan susah payah
Dengan ratusan ribu peluh yang menetes deras
Tak terhitung lagi pengorbananku untuk semua itu
Meski hanya dalam hitungan bulan
Aku bisa merasakan hangatnya kasih sahabat dan saudara
Orang-orang yang baru kukenal
Orang-orang yang baru aku temui
Semuanya bagaikan malaikat tanpa sayap
Mereka menerimaku dengan kekurangan yang melekat padaku
Kini ...
Kehidupan masa itu telah usai
Keputusanku telah bulat untuk hijrah
Mencari kehidupan yang lebih baik lagi dan lagi
Semoga pengorbananku tak sia-sia
Menapaki jalan lain yang asing untukku
Namun ada keyakinan akan jalan ini
Hanya kata ini yang terlintas setelah semua itu
....
Alhamdulilah dan Bismillahirrahmanirrahim

Label: 0 Comment |
Unknown
“ Cintya, tolong nanti pulang sekolah kamu bantu aku mendata teman-teman kita yang bisa hadir untuk acara minggu depan. Aku tunggu di sekretariat OSIS.”  Kata seorang siswa kepadaku.
Dia adalah Gio, anak kelas XI IPA 3. Yang kutahu sekarang dia adalah ketua OSIS disekolahku. Anugerah otak cerdas yang dimilikinya dengan perawakan tinggi dan rupa menawan serta pakaian yang selalu nampak rapi menambah nilai plus dirinya dimata kaum hawa. Suaranya yang lembut membuatku terpaku pada sosoknya yang tiba-tiba menepuk bahuku dari belakang.
“ Iya, nannn.....ti aku usahakan.”  Suaraku terbata-bata menjawabnya.
“ Oke....makasih, dan jangan sampai lupa,” katanya sambil berlalu menuju barisan ruang kelas yang ada di lorong depan taman.
Mataku masih belum sanggup lepas dari auranya, tapi kakiku sudah memaksa beranjak dari tempat ini. Dengan perasaan yang berbunga emas, aku melanjutkan perjalanan menuju kelas X-10 yang berada tepat dipojok koridor. Ruang kelas yang berhadapan langsung dengan perpustakaan sekolah yang selalu nampak adem ayem.
Suasana riuh menyambutku. Teman-temanku tengah sibuk dengan tugas Pak Juli, tugas Antropologi. Untungnya tugas ini sudah berhasil aku libas, bukan berarti karena aku rajin atau pandai. Tapi karena ada malaikat penolong yang selalu siap membantuku mengerjakannya, maklumlah diakan anak IPS yang lumayan cinta sama jurusannya. Aku menuju kebangku kedua dari depan sebelah kiri dengan tenang dan perasaan bebas tanpa beban.
“ Ci, tumben loe tenang-tenang aja, udah ngerjain tugas belum? Atau jangan-jangan loe lupa kalau ada tugas yang harus dikumpulin hari ini,” tanya sesosok gadis berambut ikal yang duduk disampingku.
“ Udah beres dong, gue gitu loh,” jawabku ringan dengan senyum terlepas nan bahagia.
gue tahu, pasti kak Jimmy lagi ini. Kasihan banget kak Jimmy loe manfaatin terus,” tambahnya lagi.
“ Eh...siapa juga yang manfaatin dia, kak Jim ikhlas kok bantu gue. Gue minta bantuan juga ada imbalannya kok.” Tandasku untuk mematahkan pernyataan yang menjatuhkan harga diri seorang Cintya yang baik, cantik nan menawan ini.
Selang beberapa detik, yang kami nanti telah datang. Pak Juli dengan kemeja hijau muda garis-garis plus celana jeans coklat menambah kesan aneh dan nyentrik yang ada pada sosok pria ini. Salamnya memecah keriuhan kelas. Suasana tegang mulai menyelimuti ruang yang cukup luas ini. Oksigen terasa sulit didapat, jantung kami berdendang.
“ Selamat pagi semua... tolong Danny, kamu kumpulkan tugas teman-temanmu! Lalu antarkan ke ruang Bapak segera.”
Danny yang duduk paling depan yang sedari tadi masih berkutat dengan buku Biologinya tersentak kaget, “ Iya Pak. Segera saya akan bawa kesana”.
“ Maaf anak-anak, Bapak hari ini ada rapat mendadak di Dinas Pendidikan. Jadi, kalain belajar sendiri dulu” berlalu meninggalkan kelas.
Betapa senangnya anak-anak, termasuk juga aku didalamnya. Jam pertama free. Riuh khas jam kosong memenuhi seisi kelas. Aku dan kedua temanku memulai acara rutin jam kosong. Menjadi pakar psikologi untuk para artis yang tengah mengahadapi kasus.
“ Eh... sist, tahu berita terbaru Eyang Subur nggak? Ternyata eh ternyata tuh kakek ajaib dari kota kite lho... Jombang”. Kata Silvia memulai percakapan.
“ Trus... peduli apa kite-kite dengan daerah asal Si Kakek? Mending kita peduliin pacar Nikita Willy yang lagi jadi mualaf atau abang Eza yang lagi dapat hukuman berat dari pengadilan” Jawab Si rambut ikal.
“ Aduh... aduh... kenapa sih mikirin orang lain. Kita pikirin aja nasib kita kelak. Sampai kapan kelas kita harus menjadi kelas terbawa? “ Sahutku seperempat kesal.
Kamipun tertawa terbahak-bahak mendengar pernyataanku. Memang bukan rahasia lagi kalau diantara kelas X, kelas kami dapat predikat juru kunci akibat Try Out semester lalu. Tapi, kami yakin betul bahwa hasil itu karena mesin scanningnya saja yang rusak agar kami tak terlampau malu dan merisaukan hal itu.
“ Tya, kenapa tadi malam kamu nggak balas sms-ku sama sekali?” tanya sebuah suara yang tiba-tiba menghampiri kami bertiga yang tengah asyik bercakap.
“ Devan ?” aku tersentak kaget.
“ Eh... pinjam Cintya dulu ya teman-teman,” menarik tanganku, membawaku duduk di taman kelas.
Silvia dan Gea hanya memandangku dengan perasaan berat. Aku tahu kalau mereka khawatir kalau-kalau aku akan terbujuk oleh Devan lagi dan lagi. Mereka mengangguk kecil seakan mengatakan kalau mereka percaya padaku kali ini.
“ Kamu mau apa lagi ? Bukannya kamu udah dapet gantiku. Kenapa masih ganggu aku sih” tanyaku kesal dengan muka masam padanya.
“ Kamu ngomong apa sih ? Cintaku cuma buat kamu Tya. Yang kemarin itu aku benar-benar menyesal. Aku khilaf”.
Aku tahu betul berapa kali dia begini ke aku. Mengemis untuk mengiba mengharap kepolosan atau kebodohanku memaafkannya. Tapi, kali ini tekadku benar-benar sebulat donat.
“ Aku nggak peduli lagi, terserah apapun yang kamu katakan”.
Wajahnya merah padam, tangannya hendak menamparku. Tapi seketika itu pula ada tangan lain yang mencegahnya, Gio. Aku belum berani menatap pasti sosok itu.
“ Jangan kasar sama cewek. Kayak anak kecil aja mukul cewek”, katanya sembari meraih tanganku yang tengah menutup mata. “ ayo, Ci”.
Aku berhenti berkedip untuk beberapa saat, memastikan orang ini adalah Gio. Benar dan betul kalau ini orang adalah ketua OSIS-ku. Jantungku berdegup kencang, otakku seketika dipenuhi pesona Gio, peluhku menetes membasahi wajahku, gugup mulai datang. Sampai Gio berhenti menarik tanganku, tepat didepan kelasnya.
Label: 0 Comment |
Unknown
HUJAN
forum5.png
Mendung menyelimuti kawasan rumahku, angin yang membawa semerbak bau airpun datang menyambut. Gemuruh guntur dan petir bergantian tak mau kalah meraimakan sore ini. Dan tak lama kemudian gemericik air mulai terdengar, air membasahi tanah. Bau khas tanah basah menyeruak memenuhi hidung, menenangkan jiwa. Air yang menetes mengenai genting menimbulkan suara yang indah, bagaikan konser musik rock katamu. Air yang turun dengan derasnya layaknya tirai sutra yang sedang Tuhan pamerkan pada kita, itu juga katamu. Pelangi yang muncul setelah hujan pergi adalah jejak hujan yang Tuhan perlihatkan pada kita agar kita selalu gembira jika hujan datang, yang ini juga katamu.
Perasaan senang tiba-tiba menghampiriku, senyumpun tanpa kusangka terlukis begitu saja di wajahku. Aku yang sedari tadi mengamati datangnya hujan dari balik jendela kamar merasakan perasaan bahagia bercampur kecewa setiap mengingat kenangan datangnya hujan yang selalu bebarengan dengan kedatanganmu, Adit. Memperhatikanmu mengamati hujan sambil mendengarkan puisimu tentang hujan terkadang membuatku iri pada hujan yang menempati tempat khusus dihatimu. Begitu romantisnya syair hujanmu.
“ Dit, sejak kapan sih kamu suka hujan ? sepertinya aku mulai cemburu, setiap kita menyaksikan hujan bersama seperti ini kamu selalu lebih perhatian ke hujan”, aku mulai angkat bicara setelah sejak tadi mendengarkannya memuja keindahan hujan.
“ Sejak aku mulai mengenal kasih sayang, baik dari Mama maupun dari kamu. Saat aku tahu betapa tulusnya kalian sayang ke aku, dan saat kalian menunjukkan hal itu padaku ... hujan selalu datang”, jawabnya dengan tatapan lembut ke arahku. Senyum tipis tergambar nyata di wajahnya, seolah mencerminkan kejujuran ucapannya.
Label: 0 Comment |
Unknown
RESUME QAWAID TAFSIR

A. PENGERTIAN QAWAID TAFSIR
Menurut bahasa, Qawaid artinya kaidah-kaidah atau prinsip-prinsip dasar tafsir. Sedangkan yang dimaksud Qawaid Tafsir dalam hal ini ialah kaidah-kaidah yang diperlukan oleh para mufasir dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an. Kaidah-kaidah yang diperlukan para mufasir dalam memahami Al-Qur’an meliputi penghayatan uslub-uslubnya, pemahaman asal-asalnya, penguasaan rahasia-rahasianya dan kaidah-kaidah kebahasaan.
B. MACAM-MACAM QAWAID TAFSIR
Orang yang hendak menafsirkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, lebih dahulu harus tahu dan memahami beberapa kaidah-kaidah yang erat kaitannya dengan pemahaman makna kalimat yang hendak ditafsirkan. Ada beberapa macam Qawaid Tafsir, seperti :
1.    Mantuq dan Mafhum
Mantuq adalah makna yang ditunjukkan oleh lafaz dalam pembicaraan atau penuturan. Kata mantuq secara bahasa berarti sesuatu yang ditunjukkan oleh lafal ketika diucapkan (tersurat). Secara istilah dilalah mantuq adalah : (Wahbah al-Zuhaili, 2001 : 360)
Unknown

PEMBAHASAN I
KARAKTERISTIK AKUNTANSI MANAJEMEN
Oleh: Yumniati Agustina, SE,MM


I.                   Ruang Lingkup Akuntansi Manajemen

1.      Pengertian Akuntansi dan Sistem Akuntansi

A.        Pengertian Akuntansi:

  1. Proses pencatatan (recording), penggolongan (classifying), pengikhtisaran (summarizing) dan pelaporan (reporting) data keuangan (financial data) dari suatu perusahaan untuk kemudiaan dilakukan analisis/interpretasi (interpreting)

  1. Suatu sistem yang memberikan informasi yang kuantitatif mengenai bisnis-bisnis    ekonomi, terutama sifat-sifat keuangan, yang ditujukan untuk digunakan dalam pengambilan keputusan.

  1. Proses pengolahan data keuangan untuk menghasilkan informasi keuangan yang digunakan untuk memungkinkan pengambil keputusan melakukan pertimbangan berdasarkan informasi dalam pengambilan keputusan.

Kalau kita mencoba menarik intisari dari pengertian diatas, maka akuntansi dapat dilihat dari dua sudut, yaitu :

a.      Dari sudut kegunaannya (emphasis on use )

Akuntansi merupakan suatu disiplin yang menyediakan informasi yasng esensial sehingga memungkinkan adanya penilaian jalannnya perusahaan secara efisien.
Informasi akuntansi berguna untuk:

1.      Perencanaan dan pengendaliaan perusahaan yang efektif serta sebagai dasar dalam pengambilan keputusan oleh manajemen.
2.      Untuk pertanggungjawaban (accountability) kepada investor , kreditor,pemerintah dll.

b.      Dari sudut kegiatannya (emphasis on activity)

Akuntansi terdiri kegiatan-kegiatan:

1.   Mengidentifikasi (identify) data yang berkaitan dan relevan untuk keputusan yang akan dibuat.
2.   Memproses atau menganalisa (process or analyze ) data yang relevan.

3.   Memindahkan (transform) data tersebut kedalam bentuk informasi yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan.

Jadi Akuntansi merupakan alat bagi para manajer untuk menginformasikan kondisi keuangan dan kemajuan perusahaan dan sekaligus memberikan konstribusi bagi penyusunan perencanaan, pengendaliaan operasi dan pengambilan keputusan..


B.        Sistem Akuntansi ( Accounting System)    
Adalah: Suatu metode, prosedur dan standar yang digunakan dalam mengumpulkan, mengklasifikasikan, mencatat dan meringkas peristiwa-peristiwa bisnis dan transaksi untuk menghasilkan  keluaran berupa informasi akuntansi yang didistribusikan kepada para pemakai yang digunakan sebagai alat untuk pengambilan keputusan.

Tabel 1-1. Sarana dan tujuan Sistem Akuntansi



Sebagai salah satu sistem pengolahan informasi keuangan, akuntansi dapat dibagi menjadi dua tipe yaitu: akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen.    

Akuntansi Keuangan
Adalah:           Bagian dari akuntansi yang mengolah dan memberikan informasi yang bermanfaat bagi para pengambil keputusan mengenai posisi keuangan dan hasil operasi bisnis.


Akuntansi Manajemen
Adalah: Bagian dari akuntansi yang mengolah dan memberikan informasi kepada manajer dalam suatu organisasi, membantu dalam perencanaan, pengambilan keputusan, dan pengawasan.

Akuntansi Manajemen sebagai suatu sistem pengolahan informasi keuangan dapat dibedakan menjadi dua tipe:
1.      Akuntansi Manajemen sebagai suatu tipe Akuntansi
2.      Akuntansi Manajemen sebagai suatu tipe Informasi


2.         Pengertian Manajemen

1.   Gabungan dari bidang-bidang kebijakan dan administrasi serta orang-orang yang mengadakan pengawasan dan mengambil keputusan yang perlu untuk melaksanakan tujuan bisnis pemilik dan mencapai stabilitas serta pertumbuhan.
Perumusan kebijakan memerlukan analisa dari semua faktor yang mempunyai pengaruh  terhadap laba jangka pendek dan jangka panjang.
Pelaksanaan kebijakan dilakukan oleh pejabat eksekutif utama,staf terdekatnya dan siapa saja yang memiliki wewenang yang didelegasikan oleh pejabat yang mempunyai tanggung jawab pengawasan.

widgets